Perjalanan
9:25:00 AM
Dengan selemah-lemahnya iman gue,
serendah-rendahnya ilmu agama gue, izinkan gue berceloteh.
Ditulisan ini gue mau cerita
tentang beberapa perubahan yang terjadi sama temen-temen gue yang sudah mantap
menjalani perintah Allah SWT dengan menutup aurat, berjilbab.
Gue memakai jilbab di usia 16
tahun, pada saat duduk dikelas 2 SMA. Kelas 2 SMA bagi gue adalah telat, karena
gue baligh pada saat SMP. Kecolongan 4 tahun tuh. Dulu, gw mikir jilbab itu
dipakai kalo gue udah tua aja. Ternyata perintah jilbab itu mutlak ada di
Al-Quran. Dan gue menyesal. Karena hidayah itu bukan dicari tetapi dijemput.
Kalo ditanya sama temen-temen gue, kenapa akhirnya gue memtuskan berjilbab
waktu itu adalah gue bakal jawab karena gue baca novel “Ayat-ayat Cinta”. Kelas
2 SMA baca novel islami yang mana ditengah temen-temen lo yang belum mendalami
bener-bener Islam. Yang mana diantara mereka masih baca novel-novel teenlit dan
novel percintaan lainnya. Inti yang gue ambil dari novel itu selain cerita nya
yang seru tentang poligami adalah bahasa Habiburahman atau kang Abik (author) mudah
dicerna dan lama-lama masuk kedalam hati gue. Singkat cerita, gue berfikir jika
gue baik, insyaAllah suami gue nanti akan baik. Setelah itu, gue mulai
cari-cari anak-anak masjid disekolah gue, gue pedekate sama mereka, ikut-ikut
kajiannya, sebagai anak baru, wajah gue pun baru ditengah kajian itu. (((mana ada
yang tau yak, ternyata disana ada suami gue))) Nah, Dan gue punya sosok akhwat
yang MaasyaAllah cantik, lembut, pinter, adem aja gitu lihat mukanya. Terdengar
aneh. Tapi gue kepo banget sm mbak ini. Akhirnya gue cari tau, gimana caranya gue
biar bisa kenal sama doi. Kalo dari cerita doi, doi agak kaget sih dikira gue
cwo yang ngajak kenalan. Alhasil gue deket sama dia. Entahlah sampe saat ini
dia tetep jadi role model ter oke gue dikalangan akhwat-akhwat yang ada.
Gue dulu mengalami disaat gue di
nyinyirin sama temen deket gue, dibilang semenjak pake jilbab gue sok suci dll.
Gue mengalami disaat, teman-teman gue dulu belum berjilbab dan gue paling aman
kalo ada yang pake jilbab juga sama kaya gue. Bagi gue, jilbab itu adalah rem,
pantes gak sih gue pake jilbab tapi kelakuan gue kaya gini, gitu, gono dll.
Tipe dakwah dan kajian yang gue
ikuti adalah sangat lembut, gak kasar apalagi nyinyir. Belakangan ini banyak
gue lihat beberapa postingan temen gue yang sudah hijrah, gaya mereka
memposting terlihat galak dan nyinyir. Dan yang dibahas adalah tentang Furu’iyah
(perbedaan).
Perbedaan yang akan gue bahas
kali ini di antaranya adalah perbedaan-perbedaan pandangan, pola fikir,
pendapat, faham, dan berbagai perbedaan lain yang seringkali memicu perpecahan.
Fakta saat ini, islam telah terbagi-bagi menjadi banyak golongan. Di Indonesia sendiri, telah begitu banyak golongan-golongan yang menamakan golongan mereka dengan nama yang berbeda-beda,berdasarkan faham yang dianut. Nah, apakah perbedaan-perbedaan ini yang menjadi masalah? Tentu saja bukan. Perbedaan-perbedaan adalah sesuatu yang wajar,bahkan selalu ada.
Perbedaan ini bahkan telah terjadi sejak zaman rasulullah. Perbedaan faham itu seringkali terjadi di antara para sahabat. Namun demikian, perbedaan yang terjadi pada masa rasulullah tidak menimbulkan perpecahan internal karena setiap terjadi suatu perbedan, perbedaan tersebut selalu bisa teratasi dengan adanya rasulullah SAW sebagai rujukan dan pedoman. Perbedaan-perbedaan baru banyak terjadi setelah rasulullah wafat. Dan di sinilah mulai terjadi banyak perpecahan. Banyaknya perubahan yang terjadi setelah wafatnya rasulullah membuat banyak para sahabat dan ulama melakukan ijtihad terhadap suatu hukum. Kalau saat rasulullah masih hidup, tentunya segala hal akan berpedoman pada rasulullah. Namun dengan meninggalnya rasulullah, ijtihad para ulama sangat mempengaruhi perkembangan islam pada masa setelahnya. Perbedaan sudut pandang, pemikiran, kondisi, dan faham membuat para ulama memiliki ijtihad yang berbeda-beda. Karena perbedaan ini, muncullah golongan-golongan baru. Beberapa golongan-golongan ini kemudian menganggap golongan mereka sebagai satu-satunya golongan yang benar dan mengklaim golongan-golongan lain sebagai golongan yang salah. Hal inilah yang sesungguhnya tidak boleh terjadi. Dalam kondisi kita saat ini, seharusnya setiap golongan saling menghormati kepada golongan lain. Tidak boleh ada saling menjatuhkan di antara sesama muslim. Setiap perbedaan seharusnya bisa menjadi bahan bagi setiap golongan untuk memperbaiki golongannya sendiri menjadi lebih baik. Jangan selalu melihat sisi buruk dari golongan lain, karena setiap golongan pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan dari golongan lain bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki golongannya sendiri menjadi lebih baik.
Fakta saat ini, islam telah terbagi-bagi menjadi banyak golongan. Di Indonesia sendiri, telah begitu banyak golongan-golongan yang menamakan golongan mereka dengan nama yang berbeda-beda,berdasarkan faham yang dianut. Nah, apakah perbedaan-perbedaan ini yang menjadi masalah? Tentu saja bukan. Perbedaan-perbedaan adalah sesuatu yang wajar,bahkan selalu ada.
Perbedaan ini bahkan telah terjadi sejak zaman rasulullah. Perbedaan faham itu seringkali terjadi di antara para sahabat. Namun demikian, perbedaan yang terjadi pada masa rasulullah tidak menimbulkan perpecahan internal karena setiap terjadi suatu perbedan, perbedaan tersebut selalu bisa teratasi dengan adanya rasulullah SAW sebagai rujukan dan pedoman. Perbedaan-perbedaan baru banyak terjadi setelah rasulullah wafat. Dan di sinilah mulai terjadi banyak perpecahan. Banyaknya perubahan yang terjadi setelah wafatnya rasulullah membuat banyak para sahabat dan ulama melakukan ijtihad terhadap suatu hukum. Kalau saat rasulullah masih hidup, tentunya segala hal akan berpedoman pada rasulullah. Namun dengan meninggalnya rasulullah, ijtihad para ulama sangat mempengaruhi perkembangan islam pada masa setelahnya. Perbedaan sudut pandang, pemikiran, kondisi, dan faham membuat para ulama memiliki ijtihad yang berbeda-beda. Karena perbedaan ini, muncullah golongan-golongan baru. Beberapa golongan-golongan ini kemudian menganggap golongan mereka sebagai satu-satunya golongan yang benar dan mengklaim golongan-golongan lain sebagai golongan yang salah. Hal inilah yang sesungguhnya tidak boleh terjadi. Dalam kondisi kita saat ini, seharusnya setiap golongan saling menghormati kepada golongan lain. Tidak boleh ada saling menjatuhkan di antara sesama muslim. Setiap perbedaan seharusnya bisa menjadi bahan bagi setiap golongan untuk memperbaiki golongannya sendiri menjadi lebih baik. Jangan selalu melihat sisi buruk dari golongan lain, karena setiap golongan pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan dari golongan lain bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki golongannya sendiri menjadi lebih baik.
Dengan adanya saling menghargai
antar golongan, islam tentunya akan jauh lebih kuat. Islam akan mampu
menghadapi tantangan zaman jika mereka bersatu dalam visi yang sama demi
mewujudkan kejayaan islam. Tidak ada suatu hukum yang dapat dianggap salah
ketika hukum itu jelas sumbernya. Rasulullah tidak pernah menyalahkan pendapat
dari salah satu sahabat yang memiliki pemikiran atau tindakan yang berbeda,
selama pemikiran dan tindakannya tersebut memiliki dasar dan sumber yang benar
dan kuat. Perbedaan sudah lazim terjadi dalam hal tatacara ibadah dan
sebagainya. Hal itu tidaklah seharusnya membuat islam menjadi terpecah. Tidak
ada yang boleh mengklaim sesat golongan lain selama apa yang mereka perdebatkan
tidak ada sangkut pautnya dengan masalah akidah.
Harapan gue, dengan tulisan ini bisa menjadi rujukan bagi para pembaca untuk tetap menjunjung tinggi persatuan dalam islam.
Harapan gue, dengan tulisan ini bisa menjadi rujukan bagi para pembaca untuk tetap menjunjung tinggi persatuan dalam islam.
Kebenaran hanya milik Allah SWT.
0 comments