Memang harus mandiri

9:52:00 AM



Dari sebelum pernikahan saya dan suami sudah memikirkan matang-matang rencana kedepan. Dari mulai tinggal dimana, dan beberapa capaian-capaian kami. Saya ingat betul, saya dan suami duduk di Mcd untuk membicarakan our future life, dikertas yang penuh dengan coret-coretan. 
Suami saya tidak terbiasa dengan target hidup dan saya terbiasa dengan membuat rencana capaian kedepan dan saya tuliskan dengan memberikan gambar yang dikumpulkan jadi satu didalam suatu album foto, biasa saya sebut dengan dreams book

Saya dan suami saya dilahirkan dari keluarga menengah. Tidak kaya, tidak juga kekurangan. Cukup. Orangtua kami mewariskan kami hanya dari pendidikan, tidak ada rumah atau harta yang lain. Karena mereka cukup memberikan kami pendidikan hingga kami bisa mencari tujuan hidup kami sendiri-sendiri. Kami merasakan perjuangan orangtua kami terdahulu, karena tidak ada pula warisan atau harta yang lain yang dititipkan orangtua mereka. Semua dicari dengan perjuangan, keringat juga tangisan. Proud to be their daughter and son

Sementara ini saya dan suami pun sedang proses berjuang. Membangun rumah tangga, memulai dari 0, merasakan sakit, perih dan kebingungan. 

Alhamdulillah, kami team yang kompak. Terima kasih ya Allah, engkau hadirkan suami seperti suami saya.

Kami sama-sama bekerja, kami sama-sama merintis dari bawah. Saya yang masih pekerja kantoran dan freelancer Make Up Service dan suami hanya seorang Pegawai Negeri Sipil di suatu Lembaga Pemerintahan. Ada beberapa yang sudah kami buat rencana kedepan, ada beberapa pula yang sejalan oleh rencana Allah SWT, dan beberapa mungkin masih belum waktunya diberikan Allah SWT. 

Alhamdulillah saya dipercaya suami untuk menjadi menteri keuangan rumah tangga, Harta suami menjadi harta istri, harta istri tetap harta istri (upsss :p). Tidak ada judul, ini uang suami, ini uang istri, tetapi ini uang kita bersama. Suami terbuka tentang penghasilannya, saya terbuka tentang penghasilan saya, jadi saya tidak bosen kalau suami selalu bilang (("Yang, bagi duit dong mau beli ini... itu...")) hihihi.
Suami terbuka setelah memberikan sesuatu kepada keluarganya, saya terbuka setelah memberikan bulanan kepada adik-adik saya. Semua kami lakukan dengan terbuka tanpa ada yang ditutup-tutupi. 

Setahun pernikahan kami menabung untuk membeli rumah yang sekarang kami huni, walau hanya rumah di perkampungan biasa, tapi kami bersyukur, Allah SWT meridhoi kami. Kami bersama-sama membeli isi rumah satu persatu hingga kami rasa cukup lengkap untuk menunjang kebutuhan kami di rumah.
Semoga Allah SWT memberikan rezeki lebih untuk kami punya kendaraan roda empat. (Biar ga telat datang ke kantor karena hujan, biar bisa anter ngerias yang jauh-jauh, biar ga nebeng mobil orang tua terus. hahaah).

Kami masih berjuang tiap bulan ke dokter untuk program baby, yang Alhamdulillah tidak ada masalah serius dikesehatan kesuburan kami. Mungkin belum tepat waktunya mereka datang didunia ini. hihihi. Tak apa, kami sabar. 

Memang harus mandiri.

Berumah tangga tidak mudah, kami belum ada apa-apanya. 
Perjalanan masih panjang, kami belum ada apa-apanya. 

Rezeki tidak dalam bentuk uang. Iman, kesehatan, kekuatan hati, rasa saling mencintai suami istri dan kebahagiaan hidup berkeluarga menurut saya itulah Rezeki.

Semoga Allah selalu menguatkan kami ketika lemah, memberi kebahagiaan kami ketika sedih, melapangkan rezeki kami sesuai waktuNya. 

Semoga rumah tangga kalian pun selalu diberkahi Allah SWT.

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images

Subscribe