The queen of my heart, Ibu.
8:48:00 AM
"De a da, ge i gi pake (ng)... ??"
"da......"
"da apaa??"
"da..daa...giii."
"Eng... dibacanya, jadi, daging...."
"Jadi nilai-nilai yang terkandung di permainan ini apa coba ta sebutin"
"hmmm.. emmmm.."
"Baca lagi....."
"Sebutkan nama-nama planet.."
"Merkurius, venus.. mmmm.. apa lagi yaa.."
"Baca lagiii......"
"ada sebuah kerucur, hitung berapa volumenya.."
"(coret2)... 215.."
"rumus volume kerucut apaaa?"
"eee....."
Masih teringat kata-kata itu di kepala saya. Ya, Ibu adalah tipe yang tegas kepada anaknya untuk belajar. Ekpektasinya tinggi dalam mendidik anak-anaknya. Saya adalah produksi ibu saya, saya tidak mempunyai daya kepintaran bahkan saya lemah dalam menghitung. Tapi, Ibu saya punya cara agar saya berubah menjadi anak yang tekun belajar.
Ibu saya punya cara sendiri untuk menemani anak-anaknya belajar, saya kecanduan. Jadi ingat, setiap ingin test atau ulangan diwaktu SD dulu, saya belajar dengan pola belajar saya yaitu membaca dalam hati lalu saya luapkan dengan becerita sendiri apa yang saya pelajari, setelah itu buku yang saya baca, saya berikan ke Ibu dan Ibu memberikan beberapa pertanyaan yang nantinya memang sering keluar di soal ulangan. Ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaannya, buku itu diberikan kembali ke saya dan beliau selalu bilang "Baca lagi, diinget2 lagi, dipahami, sampe ngelotok" itu bahasanya, dan sampai sekarang masih terngiang-ngiang di ingatan saya.
Saya diminta Ibu saya untuk menjadi bintang kelas dari SD, karena dari sinilah awal tanggung jawab saya untuk kedepannya dalam masalah belajar. Peringkat 1 disetiap tahun sudah saya capai hingga titik kecewa saya adalah, ketika saya memasuki jenjang SMP dengan jalur test mandiri, saya gagal masuk di SMP impian saya. Disaat beberapa teman-teman saya yang mungkin tidak terlihat unggul, mereka banyak yang mendapatkan sekolah pilihan pertama. Dan takdir saya, saya masuk di sekolah pilihan ke tiga saya. Saya terima walau membuat Ibu kecewa begitupula dengan saya. Tapi ini semua saya anggap menjadi tangga untuk saya bisa mendapatkan SMA favorite pilihan saya. Dan ya Alhamdulillah, saya bisa mendapatkan SMA pilihan saya juga pilihan Ibu. Lama-kelamaan, budaya didikan Ibu telah mendarah daging di kehidupan saya, menjadikan rasa tanggung jawab saya tinggi karena saya takut gagal dan membuat kecewa Ibu. Semua itu menjadi power saya dalam tiap kesempatan saya melanjutkan study.
Mungkin saya belum dapat memberikan penghargaan istimewa untuk Ibu, tapi saya bersyukur saya bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaanya hingga sekarang. Apa yang sudah saya capai, saya jalani, saya perjuangkan tidak lain karena doa nya yang ajaib.
Bagi saya, tidak ada Ibu yang tidak tangguh untuk dirinya, keluarganya dan kehidupannya. Semua Ibu itu tangguh. Dan masing-masing Ibu mempunyai gaya atau cara lain dalam mendidik anaknya,
Mungkin dengan apa yang sudah Ibu tanamkan ke saya adalah suatu bentuk pendidikan yang saya dapatkan dan akan saya salurkan ke anak-anak saya nanti.
Menjadi Ibu tangguh, cerdas dan berkualitas.
Menjadi Ibu tangguh, cerdas dan berkualitas.
Selamat Hari Ibu.
The queen of my heart.
0 comments